-->
    |

Demi Biayai Bayi Kembarnya Lahir Prematur, Ayah di Sekadau Lelang Ginjal

Suryoto melihat kedua bayi kembarnya yang dirawat di inkubator RSUD Sekadau (ist)

SEKADAU (Suara Sekadau) - Kasih sayang orangtua pada anak-anaknya memang tak ternilai. Tak ada materi yang mampu menandingi naluri melindungi seorang ayah atau ibu.

Suryoto, pria 36 tahun membuktikannya. Ia sekarang berpikir untuk menjual ginjalnya, organ yang sangat vital bagi tubuh manusia. Alasannya sungguh mengharukan, yakni untuk membiayai perawatan anak kembarnya yang lahir terlalu dini (prematur) pada Rabu (15/11) yang lalu. Saat ini kedua buah hatinya itu tengah dirawat intensif di RSUD Sekadau.

“Sebagai orangtua, tentu sayang dengan anak. Dan demi anak, saya siap jual organ tubuh saya. Saya siap jual ginjal saya kalau memang ada yang membutuhkan,” kata Suryoto kepada wartawan ketika ditemui di ruang tunggu keluarga Intensif Care Unit (ICU) RSUD Sekadau, Senin (20/11) siang.

Dengan segala resiko, meskipun ia tahu menjual organ tubuh adalah melanggar hukum, namun Suryoto tak akan mundur. Semua demi keselamatan anak kembarnya yang sangat ia cintai.

“Tapi saya harus gimana lagi. Saya binggung. Saya pasrah. Saya tak punya uang untuk pengobatan anak saya,” katanya terisak.

Selasa malam (14/11) lalu, sekitar pukul 07.00 WIB, sang istri mengalami mulas. Suryoto pun membawa sang istri ke Puskesmas Selalong untuk pemeriksaan kesehatan menggunakan sepeda motor. Karena istrinya sejak awal tercatat sebagai pasien di wilayah kerja Puskesmas tersebut.

“Di Puskesmas itu, istri saya diperiksa oleh Bidan. Ia bilang sudah pembukaan empat dan harus dirujuk ke RSUD Sekadau malam itu juga,” kenang Suryoto.

Keesokan harinya, Rabu (15/11), sang istri pun melahirkan anak kembar berjenis kelamin laki-laki dengan proses persalinan normal. Hanya saja, saat itu usia kandungan Nining iatri Suryoto baru berusia 7 bulan.

“Anak pertama saya lahir pukul 14.00 WIB dengan berat 1,6 kg. Sedangkan anak kedua saya lahir pukul 15.46 dengan berat 1,2 kg,” beber Suryoto.

Karena lahir prematur, anak Suryoto yang lahir pertama memiliki tinggi 40,5 cm. Sementara yang kedua tingginya 40 cm. Keduanya kini harus menjalani perawatan intensif. Dokter RSUD Sekadau menyarankan agar dirujuk ke Pontianak. Namun ditolak Suryoto karena tidak ada biaya.

“Waktu itu saya hanya pegang uang Rp50 ribu. Bahkan ada resep obat yang tidak saya tebus, karena uang tidak ada,” tutur pria yang belum lama tinggal di Sekadau, tepatnya di jalan BBI ini.

Penulis : Benidiktus G Putra
Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini