-->
    |

Inovasi Program Biodiesel Diharapkan Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kelapa Sawit

Program biodiesel dianggap belum memberi dampak positif kepada petani sawit
SEKADAU (Suara Sekadau) - Keberhasilan pemerintah melalui PT Pertamina memproduksi green diesel atau D100 disambut baik oleh petani kelapa sawit di Kabupaten Sekadau.

Albertus Wawan salah seorang petani kelapa sawit asal Empetai, Desa Merbang, Kecamatan Belitang Hilir, mengatakan keberhasilan memproduksi D100 yang bersumber dari olahan crude palm oil (CPO) yang diproses lagi menjadi FAME merupakan suatu terobosan yang membawa angin segar bagi petani.

"Sebagai petani kita menyambut baik. Artinya kedepan ada pengurangan ekspor ke luar walaupun saat ini Pertamina baru bisa memproduksi D100 di kilang Dumai dengan kapasitas 1.000 barel per hari. Namun kita harapkan produksi D100 lebih besar lagi kedepan sehingga kebutuhan CPO dalam negeri meningkat," ujar Wawan (6/8).

Terlepas dari itu, Wawan menyayangkan belum ada dampak yang dirasakan petani khususnya terhadap peningkatan harga TBS.

"Kita memantau penetapan TBS yang ditetapkan pemerintah Provinsi Kalimantan barat untuk periode II bulan Juli 2020 umur 10-20 tahun sebesar  1.502,93 rupiah per kilogram.Hanya naik 18,78 rupiah dari periode I. Sedangkan di tingkat petani paling kita terima harga seribu rupiah per kilogram karena besarnya operasional," tutur Wawan.

Ia menambahkan, petani memiliki harapan agar pemerintah mengevaluasi kebijakan biodiesel. Sebab, kata Wawan, petani sejauh ini belum dilibatkan dalam rantai pasok biodiesel.

Sementara, pemerintah melalui BPDPKS terus memberi subsidi kepada program biodiesel. Memberi subsidi untuk biodisel secara terus-menerus, lanjut Wawan, bukanlah langkah yang efektif untuk menyejahterakan petani kelapa sawit.

"Apalagi ditengah pandemi covid-19 ini petani sawit juga perlu bantuan subsidi seperti infrastruktur, pupuk dan pestisida karena sekarang petani mulai melakukan efisiensi pengelolaan kebun sawit. Cobalah petani itu diperhatikan juga supaya adil. Kalau tidak ada dampak kedepan terhadap harga TBS di tingkat petani artinya kehadiran D100 belum sukses," pungkasnya.*

Penulis : Benidiktus G Putra

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini