-->
    |

ISKA Ajak Masyarakat Sekadau Ramah dan Cinta Lingkungan

Ketua ISKA Sekadau, Paulus Subarno

Sekadau
(Suara Sekadau) - Ketua Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Kabupaten Sekadau, Paulus Subarno mengajak semua untuk menyadari, meningkatnya kerusakan lingkungan hidup semakin mengkhawatirkan pada saat ini, hendaknya disikapi dengan penyadaran yang diikuti dengan perubahan tindak tanduk dalam kehidupan sehari-hari yang mengarah kepada sikap pertobatan dan perbaikan perilaku dari perilaku yang bertendensi merusak lingkungan hidup ke perilaku yang lebih bersahabat, ramah dan sadar akan pentingnya lingkungan hidup yang berkualitas. 

“Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si dengan tegas mengajak kita bertobat dan lebih peduli kepada alam semesta dan ekosistem yang ada di dalamnya. Pertobatan ekologis yang diserukan oleh Paus Fransiskus hendaknya kita ejawantahkan dalam tindakan,” ungkap Paulus Subarno saat acara Ramah Tamah HUT ISKA ke-63  di Sekadau, pada Kamis (10/6/2021).

Menurut anggota DPRD Sekadau ini, hidup sehari-hari yang ramah dan cinta lingkungan. mendorong dan mendukung upaya pemerintah dan aparatur negara dalam membasmi para pelaku kejahatan ekologis.

“Tapi yang lebih penting, kita hendaknya memulai dari diri sendiri, keluarga dan komunitas masyarakat sekitar kita. Mari kita menata dan memelihara lingkungan hidup agar senantiasa bersih, asri, lestari, berkelanjutan dan bebas dari ancaman pencemaran,” ujarnya.

Sebentar lagi akan memasuki musim kemarau yang biasanya terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September. Sebagaimana pengalaman yang terjadi pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, selalu dihadapkan kepada suatu problem yakni terjadinya pencemaran udara yang disebabkan oleh kabut asap, akibat kebakaran hutan dan lahan. Secara kebetulan juga pada bulan-bulan tersebut, masyarakat kita sedang melakukan pekerjaan pembersihan ladang yang secara tradisional dan turun temurun dilakukan dengan cara membakar. 

"Dalam hal ini, kami Iskawan Iskawati kurang sependapat dengan adanya tudingan bahwa penyebab utama terjadinya kabut asap tersebut adalah oleh tradisi membakar lading,” tegasnya.

Ia mengajak segenap elemen masyarakat untuk melihat dan menilai secara obyektif faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kabut asap pada saat memasuki musim kemarau. 

“Kita tidak memungkiri bahwa kegiatan berladang di kalangan masyarakat tradisional dengan cara membakar memang menghasilkan asap, sebagaimana banyak aktifitas-aktifitas lainnya yang juga menghasilkan asap. Kita juga memahami bahwa kabut asap membawa dampak yang merugikan, baik bagi kesehatan maupun bagi aktifitas ekonomi. Larangan membakar ladang hendaknya diikuti dengan menawarkan solusi yang dapat diterima oleh masyarakat, baik dari segi kemudahannya, maupun dari segi biayanya yang dapat dijangkau oleh masyarakat,” papar legislator dari Partai Hanura ini.

Oleh karena itu, demi mengurangi pencemaran udara dimasa yang akan datang, kami mendorong kepada Pemerintah melalui perangkat daerah terkait untuk mencari solusi dan terobosan bagi para peladang agar tidak membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Namun bisa dilaksanakan sesuai kapasitas dan kemampuan peladang, disamping itu tentu tidak mengorbankan produktifitas lahan pertanian mereka,” katanya. [kun]





Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini